Full Width CSS

Jangan Menyerah (Never Back Down)


Film bergenre action laga memang mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Dimulai dengan kehadiran Bruce Lee antara tahun 60 – 70 an terciptalah suatu alternatif tontonan yang baru berupa suguhan adegan pertarungan ala street fighter ataupun pertarungan antara para jago beladiri. Bruce Lee sang founding father dari bela diri jeet kune do, hingga sampai saat ini masih dianggap sebagai aktor laga terbaik sepanjang masa dan dikukuhkan sebagai salah satu “Bapak” dari bela diri campuran atau mixed martial art.

                Setelah kematian Bruce Lee, film beladiri mengalami sedikit kemunduran dan kembali menggeliat diakhir tahun 80-an sampai awal milenium ketiga dengan hadirnya sederet “jagoan” seperti Jacky Chan, Jean Claude Van Damme, Steven Seagal, Jet Li ataupun Mark Dacascos. Film yang menampilkan jurus kungfu seperti drunken master ataupun tai chi master, gaya aikido pada film-filmya Steven Seagal maupun pengenalan Capoeira dalam Only the Strongnya Mark Dacascos menjadi favorit diberbagai belahan dunia. Penerapan bela diri pada film layar lebar tidak luput dari kritisi para praktisi ilmu bela diri. Banyak ahli yang menganggap bahwa adegan dalam berbagai film laga terlalu didramatisir dan tidak mungkin diterapkan dalam pertarungan nyata. Film-film kungfu yang dibintangi oleh Jet Li misalnya, dianggap terlalu menggambarkan “kesempurnaan” seorang pakar bela diri yang tak terkalahkan bahkan sangat sulit untuk hanya sekedar dipukul oleh lawannya. Kecenderungan pemilihan ilmu bela diri bagi para peminatnya juga banyak berubah, dari yang awalnya mengandalkan satu aliran atau gaya saja seperti karate, taekwondo ataupun judo ke arah bela diri campuran yang memadukan berbagai kelebihan dari bermacam aliran bela diri seperti pukulan ala karate, tendangan ala taekwondo ataupun bantingan ala judo sebagaimana yang dirintis oleh Bruce Lee dengan Jeet Kune Do nya dan juga para pakar Mixed Martial Art lainnya.
                Bak gayung bersambut, kritikan itu dijawab oleh para produsen film laga dengan membuat film generasi baru yang kebanyakannya tetap mengusung suatu bela diri tertentu tapi dengan adegan tarung yang lebih realistis seperti film-filmnya Tony Jaa yang menampilkan keindahan Thai Boxing, pendobrak stagnasi dalam produksi film laga di Indonesia yaitu “Merantau” yang menampilkan gaya pencak silat harimau, ataupun filmnya Donnie Yen seperti Flash Point dan Sha Po Lang yang menggambarkan gaya tarung ala mixed martial art.
                Berbicara tentang mixed martial art, ada satu judul film yang baru dirilis beberapa tahun lalu yang berjudul Never Back Down yang dibintangi oleh “saudara kembar” Cristiano Ronaldo, Sean Faris yang berperan sebagaiJake. Film ini mengisahkan seorang pemain Football yang pindah sekolah untuk mengikuti adiknya yang memiliki kesempatan beasiswa karena berprestasi sebagai petenis muda. Disana ia bertemu dengan seorang cewek bernama Baja (Amber Heard) yang kemudian mengundangnya kesebuah pesta yang dipenuhi cewek berpakaian minim. Tak disangka disamping ajang dugem, pesta itu ternyata juga digunakan sebagai ajang bagi para siswa untuk melakukan pertarungan bebas. Jake yang pernah memukuli beberapa lawannya dilapangan football karena mengolok ayahnya yang pemabuk, ditantang oleh si tuan rumah Ryan Mcdonald (Cam Gigandet)  untuk bertarung bebas. Jake yang tak mau lagi berkelahi, diolok oleh Ryan sebagai pecundang sama seperti ayahnya. Jake yang merasa terhina akhirnya memenuhi tantangan itu dan berusaha memukuli Ryan, tapi ternyata Ryan adalah seorang petarung yang sangat tangguh dan merupakan juara bertahan dari suatu turnamen bela diri gelap sehingga dengan mudahnya menghajar Jake hingga babak belur. Jake kemudian mengetahui kalau Baja adalah pacar Ryan yang mengundangnya atas perintah Ryan, sehingga membuat Jake semakin marah dan tidak mengacuhkan Baja. Jake kemudian bertekad untuk mengalahkan Ryan . Bersama teman barunya, Max, Jake datang menemui seorang mantan juara mixed martial art bernama Jean Roqua (Djimon Honsou) dan berlatih dengannya. Singkat cerita setelah berlatih Jake tetap saja tak mampu mengatasi Ryan, namun ketika dia telah menemukan intisari dari ilmu bela diri, akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengikuti turnamen gelap yang akan diikuti Ryan. Ryan yang masih terobsesi untuk menghajar Jake, melakukan hal kotor dengan memukuli Max, Jake kemudian memutuskan untuk bertarung bukan untuk mengalahkan Ryan, tapi agar orang-orang yang disayanginya tidak terluka termasuk Baja yang akhirnya jadi kekasihnya. Soal alur cerita, tidak ada yang istimewa dengan film ini karena jalan ceritanya sangat mirip dengan film lawas “karate kid” yang menggambarkan usaha yang keras dan membuahkan keberhasilan setelah sebelumnya diawali dengan kegagalan yang menyakitkan. Tidak ada yang terlalu spesial selain pengenalan terhadap berbagai teknik Mixed Martial Art yang dipertandingkan di UFC, Vale Tudo, Pride Fighting dan berbagai jenis pertarungan bebas lainnya. Alur ceritanya terlalu mudah ditebak, dan agak seronok dengan banyaknya gambar-gambar “hot” mewarnai film ini.

Posting Komentar

0 Komentar