Full Width CSS

Prestasi Instan



          
      Semua perjuangan dan usaha pastilah dilakukan untuk memperoleh keberhasilan dan kesuksesan. Keinginan yang begitu besar terkadang memaksa manusia untuk mengambil jalan pintas guna meraih impiannya. Tetapi berbeda dengan makanan cepat saji yang begitu banyak beredar dilingkungan kita, prestasi yang instan adalah suatu hal yang sangat sulit untuk diwujudkan. Bahkan kalaupun keberhasilan bisa diraih secara instan, hampir sudah bisa dipastikan bahwa akan begitu sulit mempertahankannya dimasa yang akan datang.
                Melihat begitu besarnya ekspektasi masyarakat tanah air akan prestasi tim nasional sepak bola indonesia, pengurus PSSI melakukan berbagai terobosan dan inovasi yang dicanangkan untuk meraih prestasi secara cepat. Pengiriman tim nasional junior ke luar negeri terus dilakukan semenjak zaman PSSI Primavera yang diteruskan oleh PSSI Baretti hingga dimasa kini dengan Tim SAD Indonesia yang berlatih dinegara peraih peringkat 4 pada piala dunia 2010 yaitu Uruguay.
Tapi bagaikan panggang jauh dari api, biaya yang dikeluarkan tak kunjung berujung kepada prestasi yang diidamkan. Terobosan terus dilakukan dengan melakukan naturalisasi terhadap pemain keturunan Indonesia ataupun yang telah lama merasakan ketatnya kompetisi liga Indonesia. Dalam waktu dekat program ini mungkin saja akan mampu menghilangkan dahaga para pecinta sepak bola Indonesia, tapi dijangka panjang apabila tidak diiringi pembinaan usia dini yang profesional, program ini justru bisa menjadi bumerang dengan berkurangnya minat para pesepak bola asli Indonesia untuk mengenakan seragam yang berlambang garuda didada. Program yang cukup mencengangkan adalah keikut sertaan PSSI untuk menawarkan diri dalam bidding tuan rumah Piala Dunia 2022. Berbagai reaksi positif dan negatif bermunculan dan reaksi negatif berupa cibiranlah yang lebih banyak mendominasi. Bagaimana tidak, jangankan bertanding melawan tim kelas dunia, berhadapan dengan tim kelas asia tenggara saja, Indonesia belum mampu berbuat banyak, ditambah lagi masih minimnya sarana dan prasarana pendukung untuk menjadi tuan rumah piala dunia. Pembangunan sarana dan prasarana tersebut tentulah akan menelan biaya yang super besar dan akan sangat membebani anggaran negara ditengah kondisi ekonomi yang tak menentu dan masih banyaknya rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Sarana yang sudah ada seperti stadion misalnya, kebanyakannya belum memenuhi standar yang telah ditetapkan FIFA, sebagai contoh, hal ini bisa kita lihat dengan buruknya kondisi lapangan tim Persiba Balikpapan atau bahkan stadion utama Gelora Bung Karno yang sering dikeluhkan oleh tim asing yang berkunjung ke Indonesia karena rumputnya yang tidak rata. Hal seperti ini pernah dinyatakan oleh penyerang Australia Archie Thompson ketika ditanya tentang kegagalan timnya mengalahkan Indonesia setelah pertandingan antara tim nasional Indonesia dengan tim nasional Australia pada penyisihan Piala Asia 2011 lalu. Archie mengemukakan bahwa salah satu faktornya adalah tidak ratanya rumput distadion GBK.
                Contoh lainnya dari ketergesa-gesaan untuk meraih prestasi adalah dengan begitu cepatnya kursi kepelatihan berputar dilingkungan tim nasional Indonesia. Seorang pelatih secara tiba-tiba bisa saja dipecat karena kegagalan dalam suatu even bahkan jauh sebelum masa kontraknya berakhir. Hal ini bisa kita lihat dengan begitu banyaknya pelatih yang pernah menukangi tim nasional Indonesia belakangan ini. Bahkan beberapa nama seperti Benny Dolo dan Ivan Kolev pernah merasakan keluar masuk dari kursi kepelatihan tim nasional. Pemecatan yang begitu cepat menjadi kritikan para pengamat sepak bola karena akan menciptakan kesulitan dalam menemukan pola ideal bagi permainan tim nasional karena setiap pelatih tentulah akan mempunyai visi dan pandangan yang berbeda dalam membina anak asuhnya sehingga sudah sewajarnya apabila seorang pelatih diberi kesempatan dan tenggang waktu tertentu untuk membentuk karakter bermain anak didiknya karena apa yang diinginkan pelatih dilapangan tidaklah akan terwujud dalam waktu beberapa kali latihan dan pertandingan, tapi dibutuhkan waktu yang panjang dan cukup sesuai dengan karakter tim binaan.
                Sekali lagi siapapun juga pasti sepakat bahwa tidak adalah prestasi yang bisa diraih secara cepat dan instan. Tidak ada emas yang tiba-tiba turun dari langit, atau mutiara yang menyembur dari dasar lautan. Prestasi dan keberhasilan adalah seperti yang digambarkan dalam lagu “we are the champion”, dimana seorang akan menjadi juara setelah melewati waktu demi waktu dari latihan, kepedihan dan kesakitan dan kekuatan untuk mengatasi keputus asaan, selesai.

Posting Komentar

0 Komentar