Full Width CSS

Dari mulut singa berpindah ke mulut buaya

Bagaikan telur diujung tanduk, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan sepak bola Indonesia saat ini. Ditengah harapan akan prestasi yang bagaikan mendambakan mata air di gurun pasir, kisruh antar top management ditubuh PSSI semakin tak berujung dan berkepanjangan. Setelah terjadinya penolakan besar-besaran terhadap mantan Ketua Umum Nurdin Halid meluas didaerah-daerah, harapan pencinta bola Indonesia akhirnya terwujudkan. FIFA akhirnya melarang Nurdin Halid untuk mencalonkan diri kembali sebagai calon ketua Umum PSSI dan menunjuk mantan ketua umum PSSI Agum Gumelar sebagai ketua Komite Normalisasi (KN).
 
Mundurnya Nurdin Halid membuat para pecinta sepak bola Indonesia begitu bahagia dan berharap akan adanya manajemen yang lebih baik dimasa yang akan datang. Harapan akan lahirnya pemimpin baru yang ikhlas dan profesional untuk menata persepak bolaan Indonesia yang dimulai pada kongres di Hotel Sultan, Jakarta 20 Mei kemarin menguap seketika karena ulah sekelompok oknum yang terus melakukan interupsi dan mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat kongres berlangsung tidak kondusif sehingga memaksa ketua Komite Normalisasi menutup kongres yang telah deadlock ini. Tanggal 20 Mei yang seyogyanya dijadikan momentum untuk kebangkitan bangsa malah menjadi “kerikil” yang menggelincirkan sepak bola Indonesia mendekati “jurang” sanksi FIFA yang akan membuat pesepak bola Indonesia tidak bisa berpartisipasi diajang internasional.Salah satu hal yang sejak sebelum kongres sudah menjadi bahan perdebatan adalah ditolaknya pencalonan 2 nama yaitu Arifin Panigoro dan George Toisutta yang didukung oleh kelompok 78 untuk maju sebagai calon ketua Umum PSSI. Perwakilan FIFA, Thierry Regenass, menjelaskan alasan mengapa otoritas tertinggi sepak bola dunia itu, sebelumnya menolak pencalonan empat nama kandidat. Liga Primer Indonesia (LPI), disebut menjadi alasan mengapa Arifin Panigoro ditolak. 
 
Thierry berkata : “Saya datang ke kongres ini, sebagai perwakilan dari FIFA. Yang ditolak bukan hanya dua, namun empat (Nurdin Halid, Nirwan D. Bakrie, George Toisutta, dan arifin Panigoro-Red). Ada alasan-alasan yang berbeda dari masing-masing kandidat yang tak diperbolehkan maju atau ditolak,” ujar Thieryy, memberikan penjelasan kepada peserta kongres. Penjelasan Thieryy merupakan respon dari desakan peserta kongres, agar FIFA memberi keterangan terkait dilarangnya George Toisutta dan Arifin Panigoro mencalonkan diri.  
 
Gagalnya kongres kemarin semakin mendekatkan Indonesia kepada sanksi FIFA yang akan membuat negara yang kena sanksi tidak bisa bermain dikompetisi internasional seperti yang pernah dirasakan oleh Nigeria dan masih diderita oleh Brunei Darussalam dan Bosnia. Banyak pihak menyayangkan gagalnya kongres ini tak terkecuali Menpora Andi Mallarangeng dan juga para pemain nasional seperti M. Nasuha yang menulis kekecewaannya di akun twitternya. Para pengamat seperti Anton Sanjoyo dan Jhon Halmahera berharap pemerintah segera turun tangan dengan melakukan lobi ke FIFA untuk menjelaskan kondisi sebenarnya dan berharap FIFA masih memberikan dispensasi buat PSSI. Hal serupa juga disampaikan oleh calon ketua umum PSSI IGK Manila dan Sutiyoso. Apabila lobi-lobi ini gagal, bisa dipastikan bahwa sepak bola Indonesia akan semakin terpuruk karena tidak ada kesempatan lagi untuk menimba ilmu dengan berhadapan dengan negara lain. Para pemain muda yang bermimpi mengenakan seragam dengan garuda didada hanya akan menghabiskan peluh mereka untuk sesuatu yang sia-sia. Para pemain naturalisasi pun akan kecewa telah mengganti kewarga negaraan mereka karena tidak ada kesempatan membela Indonesia diajang internasional. Pemerintah harus segera mengambil tindakan karena sepak bola adalah olah raga yang paling dicintai rakyat Indonesia. Sanksi FIFA akan membuat tim nasional kita hanya akan mampu berlaga diajang internasional melawan dua negara Bosnia dan Brunei Darussalam, selesai.

Posting Komentar

0 Komentar