Full Width CSS

Lazio Bae Jebol

Del Piero sang Italiano
Kurniawan memang Julianto
Romario ojo neko-neko
Widodo kamu ora ono 
(Padhyangan Project : lagunya lagu bola)  

Tak diragukan lagi bahwa sepak bola merupakan olah raga yang paling digemari diseantero jagad raya. Sepak bola merupakan olahraga yang bisa dimainkan dan dinikmati oleh semua kalangan. Tak perlu biaya mahal untuk dapat menikmati permainan sepak bola. Karena itulah banyak sekali pemain berbakat kelas dunia bermunculan dari negara-negara miskin di Afrika.

Negeri kita tercinta Indonesia juga tak ketinggalan tampil sebagai negara yang mayoritas penduduknya merupakan penggemar berat sepak bola. Dukungan rakyat Indonesia kepada Tim Nasional Sepak Bola Indonesia bagaikan kisah percintaan romantis yang dibumbui pasang surut, benci bercampur rindu namun tak lekang oleh waktu. Setiap pertandingan Tim Nasional Indonesia selalu dinantikan oleh jutaan penggemarnya dari sabang sampai merauke walaupun ujung-ujungnya selalu gagal maning 2x.

Dimasa yang lalu sebenarnya prestasi Tim Nasional Indonesia tidaklah terlalu jelek-jelek amat. Berikut beberapa prestasi membanggakan yang pernah diraih oleh Tim Nasional dimasa lalu :
  1. Pernah tampil di Piala Dunia walaupun atas nama Hindia Belanda Tahun 1938 dan diakui FIFA sebagai negara Asia pertama yang tampil dipiala dunia.

  2. Lolos ke perempat final  Olimpiade Melbourne Tahun 1956 walaupun kalah dipertandingan ulang dengan skor 0-4 dari Uni Soviet setelah berhasil menahan imbang tanpa gol Sang Raksasa Eropa yang kala itu diperkuat oleh penjaga gawang terbaik didunia Lev Yashin. Medali perunggu Asian Games Tahun 1958 di Tokyo, Jepang.

  3. Lolos ke Piala Dunia U-20 Tahun 1979 di Jepang dan sempat merasakan "keganasan" sang legenda Diego Armando Maradona. 

Dan masih ada beberapa prestasi lainnya yang cukup membanggakan seperti "nyaris lolosnya" Tim Nasional Indonesia ke Piala Dunia Meksiko Tahun 1986 setelah kalah dari Negeri Ginseng pada partai penentuan. Torehan prestasi yang cukup fenomenal tersebut menimbulkan rasa "segan" bagi para lawan Tim Nasional di masa lalu terutama ditingkat Asia sehingga Timnas kita pernah dianggap sebagai salah satu macan Asia.

Walaupun pernah berjaya ditingkat Asia, Tim Nasional masa itu (sebelum era Tahun 1990-an) ternyata belum beruntung untuk ikut serta mencicipi atmosfer kompetisi paling bergengsi antar negara-negara dikawasan Asia yaitu Piala Asia. Keikutsertaan Indonesia pada ajang Piala Asia pertama kalinya terjadi pada Tahun 1996 ketika Uni Emirat Arab menjadi tuan rumah. Tim Nasional memang gagal berprestasi kala itu, walaupun sempat memberikan kejutan dipartai pembuka ketika nyaris mengalahkan Kuwait yang berhasil melaksanakan "epic comeback" yang memaksa Tim Nasional hanya berhasil membawa pulang 1 angka disepanjang turnamen. Pada pertandingan selanjutnya Tim Nasional sempat merepotkan raksasa Asia Korea Selatan dan juga tim tuan rumah walaupun akhirnya harus berujung kekalahan.

Mengenang Piala Asia Tahun 1996 tersebut, semua pecinta sepak bola nasional tentunya tidak akan lupa dengan aksi spektakuler seorang pemuda dari Jawa Tengah bernama Widodo Cahyono Putro yang sukses mencetak dua gol diturnamen tersebut dan salah satunya dinobatkan sebagai gol terbaik sepanjang turnamen. Gol tendangan salto Widodo ke gawang Kuwait setelah menerima umpan cantik dari Ronny Wabia juga ditetapkan menjadi salah satu gol terbaik sepanjang sejarah perhelatan Piala Asia.


Widodo sendiri sejatinya merupakan seorang pemain yang telah kenyang pengalaman. Dia merupakan salah satu anggota Tim Nasional saat merengkuh emas buah bibir terakhir kalinya di SEA Games Manila 1991. Penampilannya yang ciamik diajang Piala Asia menimbulkan ketertarikan dari beberapa klub dikawasan Asia diantaranya klub dari Uni Emirat Arab dan juga dari J-League (Liga Jepang). Faktor keluarga disinyalir menjadi  penyebab batalnya Widodo mencoba peruntungannya bermain diluar negeri.
 
Sepanjang era 1990-an Widodo telah malang melintang tampil membela Tim Nasional Indonesia diberbagai ajang pertandingan. Setidaknya telah mencetak 14 gol dari 55 caps nya bersama Tim Nasional. Salah satu penampilannya yang juga sangat mengesankan bagi para pecinta sepak bola nasional adalah ketika Widodo tampil sebagai "pahlawan" yang sukses memperkecil kekalahan saat Tim Super Bintang Liga Indonesia Tahun 1995 menghadapi Tim Besar Italia Lazio pada suatu laga uji coba. 
 
Tim Super Bintang yang diperkuat pemain-pemain terbaik Liga Indonesia waktu itu seperti Dejan Gluscevic, Eri Irianto, Fachri Husaini, Aples Tecuari dan Vata Matanu Garcia tak bisa berbuat banyak menghadapi kualitas Lazio yang dipimpin oleh Pemain Tim Nasional Italia di Piala Dunia Amerika Serikat Tahun 1994, Giuseppe "Beppe" Signori bersama dengan pemain lainnya seperti Paolo Negro, Roberto Rambaudi dan Giuseppe Favalli. Pertandingan berakhir dengan skor mencolok 6-2 untuk keunggulan Lazio. Akan tetapi Widodo kala itu justru sukses merepotkan pertahanan Lazio dan memborong dua gol bagi Tim Super Bintang. Penampilan Widodo yang apik membuat pelatih Lazio Sven Goran Eriksson spontan memujinya dan walaupun mungkin sekedar berbasa-basi, Eriksson menyatakan bahwa Widodo layak untuk bermain di Seri A.
 
Kesuksesan Widodo memborong brace ke gawang Lazio membuatnya selalu dielu-elukan oleh para penggemarnya. Hingga diberbagai stadion ketika Widodo bermain, sering sekali terlihat bermunculan spanduk bertuliskan "Lazio Bae Jebol" (Lazio Saja Bobol). Setelah malang melintang dibeberapa klub besar Indonesia, Widodo akhirnya memutuskan gantung sepatu pada Tahun 2004 saat memutuskan kembali dan menutup karirnya di klub yang telah membesarkan namanya, Petrokimia Putra Gresik.
 

Setelah gantung sepatu, Widodo kemudian melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Pernah menjabat sebagai pelatih dan asisten pelatih Tim Nasional, Widodo meraih prestasi tertingginya ketika berhasil mengantarkan anak asuhnya Bali United menjadi runner up Liga Indonesia pada Tahun 2017. Saat ini Widodo masih aktif melatih klub berjuluk "Pendekar Cisadane" Persita Tangerang. Selesai.

Posting Komentar

2 Komentar